Kesulitan dalam Pengembangan UKM

Kesulitan dalam Pengembangan UKM

Meskipun telah memberikan banyak sekali kontribusi dan memegang peranan yang sangat penting di dalam perekonomian Indonesia, I-JKM di Indonesia ternyata masih harus menghadapi berbagai permasalahan. Diantara permasalahan yang harus dihadapi oleh UKM adalah seperti yang pernah dijelaskan oleh Mudradjad Kuncoro dalam bukunya Ekonomika Pembangunan (2010), yaitu:

  1. Kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar. Permasalahan ini terjadi diduga karena sebagian besar UKM dikelola dengan metode-metode yang tradisional/ konvensional. Kebanyakan pengetahuan bisnis didapatkan melalui belajar secara otodidiak melalui trial and erorr, atau berdasarkan pengalaman bisnis keluarga yang diturunkan dari generasi sebelumnya.
  2. Kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh jalur untuk sumber-sumber permodalan. Para pemberi modal sebelum mencairkan dananya tentu mempertimbangkan resiko dan potensi tingkat pengembalian yang akan mereka dapatkan. Sementara pada UKM yang skala usahanya sangat kecil, para pemilik modal masih memandang investasi terhadap UKM sebagai sesuatu yang beresiko dan tingkat pengembalian juga kecil.
  3. Kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia. Karena mayoritas UKM tidak memiliki struktur organisasi yang jelas. Terkadang pemilik bertindak langsung sebagai pengelola dan pemasar. Keterbatasan jaringan usaha kerja sama antarpengusaha kecil (Sistem Informasi pemasaran). Oleh karena itu sebenarnya perlu dibangun jaringan-jaringan usaha UKM seperti UKM untuk mengembangkan konektifitas mereka.
  4. Iklim usaha yang kurang kondusif karena iklim usaha yang mematikan.
  5. Pembinaan yang dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil.

pengembangan ukm

Sementara tantangan yang dihadapi oleh UKM, diantaranya meliputi dua aspek  yaitu :

  1. Bagi usaha yang memiliki omset kurang dari 300 juta per tahun umumnya tantangan yang di hadapi adalah bagaimana menjaga kelangsungan hidup usahanya.
  2. Bagi usaha yang masih memiliki omset Rp. 300 juta sampai Rp. 2,5 Miliar setahun tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks. Diantaranya adalah:
    • Masalah belum adanya sistem administrasi keuangan dan manajemen yang baik karena belum dipisahkan kepemilikan dan pengelolaan perusahaan.
    • Masalah bagaimana memperoleh pinjaman dan membuat studi kelayakan untuk memperoleh pinjaman baik dari bank maupun modal ventura karena kebanyakan UMKM mengeluh berbelit-belitnya prosedur memperoleh kredit, agunan tidak memenuhi syarat, dan tingkat bunga dinilai terlalu tinggi.
    • Masalah menyusun perencanaan bisnis karena persaingan dalam merebut pasar semakin ketat.
    • Masalah akses terhadap teknologi terutama bila pasar dikuasai oleh perusahaan / grup bisnis tertentu dan selera konsumen cepat berubah.
    • Masalah memperoleh bahan baku terutama karena adanya persaingan yang ketat dalam mendapatkan bahan baku, bahan baku dengan kualitas rendah, dan tingginya harga bahan baku.
    • Masalah perbaikan kualitas barang dan efisiensi terutama bagi yang sudah menggarap pasar ekspor karena selera konsumen berubah cepat, pasar di kuasai oleh pasar tertentu dan banyak barang pengganti.
    • Masih terbatasnya tenaga kerja yang terampil. Selama beroperasi,
Artikel Terkait :   Keuntungan dan Kelebihan menjadi seorang blogger

Pengembangan UKM

UKM memang tidak pernah lepas dari berbagai kendala dan kesulitan. Sepertinya hambatan-hambatan tersebut selalu muncul karena pada awal didirikannya, UKM juga dibentuk atas berbagai keterbatasan. Jika dilihat dari berbagai aspek, maka berbagai kendala yang dihadapi oleh UKM diantaranya:

  1. Penguasaan teknologi yang masih rendah Sebagaimana juga telah dijelaskan sebelumnya, salah satu tantangan yang mesti dihadapi oleh UKM adalah kurangnya Sumber Daya Manusia yang berkualitas serta penguasaan personil UKM terhadap teknologi yang masih kurang. Harus diakui bahwa lambatnya kemampuan mengadopsi teknologi menjadikan perkembangan UKM di Indonesia menjadi sangat lambat sekali. Sehingga pertumbuhan UKM yang sebenarnya bisa lebih maksimal tidak mampu tercapai.Hal ini semakin dipersulit oleh kebijakan-kebijakan pemerintah yang kurang mendukung dan membuka jalan bagi UKM-UKM untuk mendapatkan akses permodalan. Kesulitan modal untuk tentunya menjadikan UKM semakin sulit mengaktualisasikan diri serta melakukan inovasi-inovasi. Selain itu kesadaran para pelaku UKM untuk mengembangkan kualitas dan kompetensi para personilnya terbilang masih rendah.

    Sementara inovasi-inovasi dengan menggunakan teknologi terbaru tentunya tidak akan tercapai tanpa adanya Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Sebaliknya teknologi yang canggih sekalipun yang telah dimiliki oleh UKM tentunya tidak akan dapat dimaksimalkan apabila Sumber Daya Manusianya tidak berkualitas. Hal ini karena segala sesuatunya hanya merupakan perangkat,

  2. UKM harus menghadapi birokrasi yang berbelit saat mengembangkan usahanya. Salah satu yang menjadikan Indonesia lambat berkembang selama ini adalah birokrasi yang lama dan berbelit-belit. Bahkan di Indonesia sendiri sudah ada sebuah ungkapan “jika bisa dipersulit kenapa dipermudah”, yang menggambarkan birokrasi-birokrasi yang tidak penting. UKM sebagai salah satu unit bisnis yang sejatinya harus bergerak cepat sesuai dengan tuntutan keadaan tentunya akan disulitkan oleh adanya birokrasi-birokrasi yang rumit. Birokrasi yang harus dihadapi oleh UKM bahkan dimulai sebelum mereka menjalankan usahanya, yaitu pada saat pengurusan ijin usaha.Selama ini di Indonesia, untuk mendirikan suatu usaha, maka seseorang harus menjalankan sebuah proses pengurusan yang dapat memakan waktu hingga 4-6 bulan. Belum lagi pengurusan tersebut harus dilakukan di banyak kantor yang berlainan lokasi. Sehingga tidak heran apabila seandainya para pelaku UKM lebih suka apabila usahanya cukup berada di sektor informal saja. Coba bandingkan dengan pengurusan ijin usaha di negara tetangga Singapura yang hanya memakan waktu 1-2 hari saja, dan semuanya dapat diurus di satu atap atau aplikasi melalui jaringan internet. Untuk itu, perlu kiranya di setiap daerah dilakukan pemangkasan birokrasi sehingga para pelaku UKM dapat mengurus usahanya tanpa adanya kesulitan-kesulitan yang tidak perlu.

    Dengan masuknya UKM-UKM tersebut ke dalam sektor formal, dengan sendirinya urusan permodalan juga akan semakin mudah didapatkan. Permasalahan infrastruktur, sarana dan prasarana yang tidak mendukung. Keterbatasan infrastruktur, sarana dan prasaranan juga menjadi salah satu kendala bagi UKM untuk mengembangkan usahanya. Padahal terkadang produk yang diciptakan oleh suatu UKM sudah memiliki kualitas yang sangat baik, namun gagal mencapai pasar yang lebih luas karena infrastruktur yang tidak memadai.

Itulahartikel tentang Kesulitan dalam Pengembangan UKM yang bisa saya tuliskan untuk kesempatan kali ini,semoga bisa bermanfaat, jika anda menyukai artilel sejenis Kesulitan dalam Pengembangan UKM ini silahkan anda share artilel ini ke temen-temenanda.

Beri Komentar